Pages

Friday, July 29, 2016

bibit-bibit kefuturan

Assalamualaikum, bismillah.

Hidup ini beginilah, ada naik dan ada turunnya. Saat kita adukan susahnya hidup ini, kita tertanya ‘lebih susah daripada apa?’

Bila kita di saat hammasah dan himmah melangit tinggi, kita tak rasa analisa-analisa kefuturan dekat dengan kita..

Kita rasa insyaAllah kita masih bertahan dan  akan tsabat..

Tapi bila saat kita meretak, semua analisa kefuturan make sense sangat, terasa dekat.

Tiada kebersamaan.
semalam aku terhenyak bila ada sahabat cerita, ada sahabat yang aku sayangi di jalan ini, menghilang katanya ada sedikit masalah kebersamaan. Ikhwah akhwat kurang merasa berat susah senang dirasa bersama. tak rasa diguide? tak diambiltahu khabarnya? Sebab ini, dekat sekali rasanya.


Kemerajukan.
Di saat kita sukar untuk terbuka,suka memendam rasa.. bila kita mengadu kesusahan (ah cengeng, dengan air mata) dibalasnya dengan senda ketawa. Kita tak rasa benda tu lawak. At all. Untuk merajuk, terasa, sangat mudah. Sebab ini juga, dekat sekali rasanya.


Sejak boleh drive, alhamdulillah lebih memudahkan, tapi ada episod rasa selalu terfikir bila otw balik sorang, susahnya hidup dekat kl-selangor ni. (malaysialah umumnya) duit minyak, tol banyak perlu dihabiskan. Nak ziarah mad’u pun makan masa berjam kalau merempuh jammed. Pulang usrah jam 12 malam dengan perjalanan lebih lama daripada pengisian, yang kita tahu hitamnya hati ; apa yang disuburi dengan liqa’ ini ; lalu pertanyaan paling tak pernah terfikir : worth ke nak perjuangkan semua ini?

Di saat kita rasa sebelum ini, jumlah kita ramai, lalu menghilang, senyap kebanyakannya.. mana pergi semua orang? Mana? Kita rasa semakin terbeban, kita punya ‘dendam’ pada yang meninggalkan saat kita juga tekontang-kanting, terhuyung-hayang. Rasa dizalimi..

Kenapa sekarang kita baru nak persoalkan.. kita juga punya keluarga, kita juga punya urusan, berbagilah.. takkan semua kita nak buat. Yang tahu ditanya ; apa updatenya program itu ini?? Pedih, seolah kita ini robot tanpa perasaan ..

Di saat dahulu kita pernah diajar bersangka baik pada yang berkeluarga punya pasangan, tapi dalam nasihat yang sama, yang berkeluarga, punya pasangan juga harus bersimpati pada bujangan. Kerja ini kerja bersama, susah dan senang, bukan sampingan..

Allahu…

Peduli vs Bertanya.
Mungkin orang tak sengaja, tapi pertanyaan.. ‘mana mutarabbi yang lain?’ saat kitalah masulah daurah, benar2 satu tikaman pada hati. Membunuh motivasi..kita berharap pertanyaan itu dimulai dengan rentak yang kurang intensenya. tapi who cares?

Kita rasa kenapa kita susah payah kejar orang sana sini nak ajak jumpa, nak tanya khabar sedang kita punya circle of friends/family yang insyaAllah lebih sering availablenya. Tak perlu terhegeh-hegeh dikejar. Kita je susah-susah, orang mungkin tak kisah.. boleh sangat nak geram; ‘yang tak nak tu sudahlah.. pandai2lah’

Tak pernah terfikir astaghfirullah.. tapi terkeluar juga. rasanya nak jadi doktor muslimah yang cemerlang, yang berakhlak mulia, cukuplah kot. Jaga solat, puasa, pendek kata jadi muslim yang baik sudahlah. susah2 buat apa..

Bekerja pada saat hati kita terasa semakin dikotori dengan prasangka, ketidakikhlasan, expectation yang membuahkan bermacam lagi keburukan...why not berhenti dari semua ni? Focus pada penjagaan hati. Kan.. make sense tak?

Beginikah rasanya ingin futur?
Bibit kefuturan beginikah ya Allah…?
Sehalus ini ya bisikan syaitan?
Seberat ini ya godaan dan hentakannya?
Faghfirlana ya Allah..

Bacaan kahfi hari ini yang membasahkan. Di tengah keserabutan perasaan yang terpendam, penuh emosi..

‘dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja dengan mengharap keredhaanNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka kerana mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatiNya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas’

Semakin dibaca semakin ketemu jawapan..

‘sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia2kan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu’

Semakin dibaca semakin rasa terhina, malu, dengan jawapan Tuhan..

Faghfirlana ya Allah..

Jika yang diperlukan untuk mengemban dakwah ini, hati daie yang suci maka kau berilah aku hati yang baru. Aku lebih rela berkerja dengan penuh kelemahan, daripada berhenti di saat punya keupayaan. Aku malu menjadi hamba tidak kenal erti kesyukuran.

:(

Faghfirlana ya Allah..

3 comments:

suraya0809 said...

sangat menyentuh hati. semoga terus kuat kak huda. allahumma aamiin.

TiM said...

waiting for updates utk semua walimahhhhh~~~ cepat la update!

Khalilah Alhuda said...

Semoga Allah tsabatkan kita, ameen :)